Negosiasi: Bahasa Punya Cerita

Ini bukan cerita motivasi bisnis. Bukan pula narasi pedagogis, atau bahkan alur hipnosis layaknya dipamerkan sang mentalis. Bukan! Ini hanya sebuah narasi semi historis dari sebuah pengalaman yang hendak penulis sampaikan kepada pembaca budiman tentang betapa arti sebuah bahasa memiliki kekuatan yang luar biasa. Tidak percaya? Kita tentu ingat dalam bahasan bidang tertentu, beberapa ahli bahasa menyepakati sebuah konsep bahwa bahasa dapat mempengaruhi pikiran atau pikiran mempengaruhi bahasa!? Dua hal menarik yang selalu menjadi topik perbicangan pemerhati bahasa yang diusung oleh dua tokoh terkenal bidang linguistik yang kemudian Hipotesisnya dikenal dengan nama Hipotesis Saphir-Whorf, sesuai dengan nama tokohnya. Nah, bedanya kali ini bahasa memiliki kekuatan atau pengaruh besar dalam hal negosiasi yang tampaknya bisa diterapkan di beberapa atau segala bidang.

Bermaksud berbagi, ada kisah unik yang dialami paman saya, seorang guru di sebuah sekolah negeri di Jakarta saat berlibur bersama rekan-rekannya ke pulau dewata, Bali. Pulau yang menarik begitu banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Entah mengapa mata turis selalu terpana melihat Bali, padahal tempat wisata pantai negara kepulauan Indonesia ini begitu banyak, misalnya saja Raja Ampat; Pantai Senggigi, Lombok dll. Dua hari mereka nikmati liburan hingga waktu beranjak kembali ke Jakarta pun sampai lah jua. Niat berbelanja di Bali awalnya bukanlah menjadi tujuan paman saat masih berada di Jakarta, namun melihat kawan-kawannya yang asik berbelanja, akhirnya menarik minatnya untuk juga ikut terjun di “medan” tawar-menawar memburu barang-barang khas Bali.

Paman tidak terlahir sebagai orang Bali, sejak kecil ia tumbuh dan besar di Jakarta, tetapi senang sekali dengan barang kerajinan khas Bali. Namun sayangnya, ia tak mampu berbahasa Bali meski hanya satu kalimat. Kebetulan beserta paman juga ada turis mancanegara, turis asal Australia yang memiliki hasrat beli yang sama dengan paman. Tas Etnik berbahan dasar kulit kambing dengan corak batik Bali berhasil menggaet sorot mata mereka. Proses negosiasi tak bisa dihindari, pembeli ingin mendapatkan harga murah, itu hal mutlak dalam transaksi jual beli. Turis Australia tadi dikenakan harga dua ratus tiga puluh ribu rupiah untuk satu tasnya (bermuatan kecil). Sementara paman, setelah melalui “perdebatan sengit” berhasil menawar seharga seratus dua puluh lima ribu rupiah. Paman beli dua, yang satu untuk dihadiahkan kepada pacarnya yang kini berstatus istrinya.

Bukan main gembira yang dirasakan paman. Ah, memang sesama orang Indonesia memiliki harga khusus, batin paman diiringi tawa saat tahu dirinya berhasil mendapatkan harga yang jauh lebih murah. Ternyata saat hendak berangkat pulang, di dalam bus, salah seorang teman paman yang juga bukan orang Bali berhasil membeli barang yang sama seharga sembilan puluh ribu rupiah. Karena begitu kagetnya, paman berteriak, “Woi! jago bener sih nawarnya. Saya aja ini beli satunya seratus dua puluh lima ribu!”

Teman paman saya pun menjawab, “Saya sebenarnya nggak jago tawar-menawar, pak.”

Lho, terus kok murah?” selidik paman.

“Saya kan jago bahasa Bali. Pedagangnya mengira saya orang Bali!” sembari ngeloyor pergi ke tempat duduknya dan tertawa bersama kawan sebangkunya di bus itu.

Raut riang membuncah dari wajah paman seketika meredup. Tapi paman masih bersyukur dan senang. Setidaknya paman lebih jauh beruntung dari turis asal Australia tadi.

Yah, itulah uniknya berbelanja. Kepuasan batin muncul saat bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Namun ternyata, salah satu senjata besarnya adalah dengan “Bahasa”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s